only weak butterfly

only weak butterfly

Selasa, 13 Oktober 2015

Saat itu sedang di luar kota,,,,jam tanganku menunjukkan pukul 16.30..sudah mulai padatnya pengguna jalan yang hendak mengakhiri pencarian rejeki hari ini.

Hujan panas mengguyur kota yang selalu banjir meski hanya sebentar hujan turun...genangan sana sini membuat percikan air yang dilalui ban motor dan mobil sesekali menambah basahnya sepatu ku  yang memang sudah basah karena hujan.
Meski mitos hujan panas katanya saat setan melahirkan...namun kemeriahan kampanye salah satu cagub tak menyurutkan niat simpatisan entah karena sebah loyalityas atau doorprize yang dijanjikan.

akhirnya angkot merah tiba juga setelah setangah jam menanti....rupanya angkot hanya menyisakan muatan untuk satu orang. dengan berat hati aku mundur memilih anak sekolah itu yang naik, meski aku khawatir dengan keselamatn berkas di tas gendongku yang aku yakin telah basah. sekitar selang waktu yang sama angkot coklat pun berhenti didepanku....yah....dari luar terlihat hanya ada 1 org penumpang. aku memilih duduk disamping pintu keluar agar lebih segar sambil memandangi ib kota provinsi ini. tapi ternyata sepanjang jalan perhatiank direbut oleh pemandangan yang ada didepanku. seorang ibu tua penjual sayur dengan sandal jepit yang tak layak pakai lagi, belum lagi kakinya yang dipenuhi lumpur sambil memperbaiki sayur yang masih menumpuk didepannya....tiba2 iba menghampiriku, terlebih melihat uang digengamannya hanya beberapa ribu perak. berbagai pikiran menyedihkan menghampiriku..... dan aku berencana untuk membayarkan angkotnya.....lumayan untuk mngurangi pengeluarannya hari ini.
Tak lama 2  penumpang masuk yang. 1 penumpang itu menggunakan seragam kampanye itu....sepanjang jalan kerjaanya hanya mengumpat dan mengutuk cagub yang ia kenakan bajunya......tak lama ibu tua penjual sayur menyambung pembicaraannya dengan umpatan yang tak kalah pedasnya......sunggh aku terkejut dengan sikap ibu  itu....seketika iba ku hilang dan lenyap..semua rencanaku kualihkan.....

ternyata penampilan tak menjamin sikap seseorang.


renungan di kota banjir

Tidak ada komentar:

Posting Komentar