only weak butterfly

only weak butterfly

Rabu, 14 Oktober 2015

Ku susuri jejak terdahulu
Berharap arah tak membelenggu....
Ku sentuh jerami kaku
Meski tak menggangu kalbu..

Aku masih tergugu termangu
Menatap langkah yang nampak ragu
Ku urai sendu seiring haru
Merenda pilu mengejar waktu

Namun semua telah berlalu
Cerita ku hanya sebatas rindu
Kelam penuh abu
Biarlah ku bawa serta haru
Berharap pelangi masih menunggu
Semoga esok hilang lara ku

Selasa, 13 Oktober 2015

Kadang aku galau dengan keadaan ku sekarang....
tapi...aku tepis itu semua dengan keyakinan bahwa esok lebih baik......
hari ini lagi-lagi hatiku meragu dengan keputusan.....
mungkin ini bukan pilihan lagi..tepatnya adalah keputusan....
aku suah memilih dan aku harus berjalan bersama dengan pilihanku.....
aku bahagia....
namun kadang semua itu pasang surut............
tetap tersenyum kadang kuingat lagi semua inimemilukan hati......
semua terkikis dengan ego sekeliling....
harus ku hapus dengan pedih luka lamaku.....
hingga semua menjadi lebih baik.... 
tahukah engkau bahwa aku masih terus meratap dengan semua ini
tahukah engkau aku merana dengan senyumku...
tahukan engkau  semuanya masih pada tahtanyaa....
aku pedih dengan kebahagianku sekarang...
tapi engkau  sakiti aku...
tapi engkau yang kikis hatiku dengan sikapmu...
aku bertahan dengan modal cintamu......
semuanya nihil....aku mencinta dengan kehampaan....
diakhir tahun ini bahkan lebih dua tahun engkau masih mengerogoti hatiku........ 
 namun telah kutemukan semuanya kini...
hingga aku kembali bisa tersenyum.....
bersamanya..... 
sekarang biarkan ak untuk terus merengkuh keindahan hariku........
enyahlah kau kepedihan...
larilah kau luka...
biarkan aku terbang bersama cintaku sekarang.....
aku meniti hidup baruku sekarang.............


Saat itu sedang di luar kota,,,,jam tanganku menunjukkan pukul 16.30..sudah mulai padatnya pengguna jalan yang hendak mengakhiri pencarian rejeki hari ini.

Hujan panas mengguyur kota yang selalu banjir meski hanya sebentar hujan turun...genangan sana sini membuat percikan air yang dilalui ban motor dan mobil sesekali menambah basahnya sepatu ku  yang memang sudah basah karena hujan.
Meski mitos hujan panas katanya saat setan melahirkan...namun kemeriahan kampanye salah satu cagub tak menyurutkan niat simpatisan entah karena sebah loyalityas atau doorprize yang dijanjikan.

akhirnya angkot merah tiba juga setelah setangah jam menanti....rupanya angkot hanya menyisakan muatan untuk satu orang. dengan berat hati aku mundur memilih anak sekolah itu yang naik, meski aku khawatir dengan keselamatn berkas di tas gendongku yang aku yakin telah basah. sekitar selang waktu yang sama angkot coklat pun berhenti didepanku....yah....dari luar terlihat hanya ada 1 org penumpang. aku memilih duduk disamping pintu keluar agar lebih segar sambil memandangi ib kota provinsi ini. tapi ternyata sepanjang jalan perhatiank direbut oleh pemandangan yang ada didepanku. seorang ibu tua penjual sayur dengan sandal jepit yang tak layak pakai lagi, belum lagi kakinya yang dipenuhi lumpur sambil memperbaiki sayur yang masih menumpuk didepannya....tiba2 iba menghampiriku, terlebih melihat uang digengamannya hanya beberapa ribu perak. berbagai pikiran menyedihkan menghampiriku..... dan aku berencana untuk membayarkan angkotnya.....lumayan untuk mngurangi pengeluarannya hari ini.
Tak lama 2  penumpang masuk yang. 1 penumpang itu menggunakan seragam kampanye itu....sepanjang jalan kerjaanya hanya mengumpat dan mengutuk cagub yang ia kenakan bajunya......tak lama ibu tua penjual sayur menyambung pembicaraannya dengan umpatan yang tak kalah pedasnya......sunggh aku terkejut dengan sikap ibu  itu....seketika iba ku hilang dan lenyap..semua rencanaku kualihkan.....

ternyata penampilan tak menjamin sikap seseorang.


renungan di kota banjir